Sebagai seorang pendidik yang setiap hari berhadapan dengan dinamika Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), saya sering kali merenung di depan kelas. Apakah materi-materi yang tertuang di dalam buku teks kita sudah benar-benar berbicara dengan realitas hidup yang dihadapi oleh anak-anak didik kita? Ataukah kita justru terjebak dalam rutinitas mengajarkan hafalan-hafalan mati yang membuat batas tebal antara ruang kelas dan riuhnya gejolak sosial di luar sana?
Kegelisahan inilah yang akhirnya mendorong saya untuk menyusun sebuah jurnal ilmiah bertajuk “Kajian Hidrososio: Perspektif Sosiologi Air dalam Ruang Sosial Indonesia”. Menariknya, ide besar dalam jurnal ini tidak lahir dari ruang kosong. Jurnal tersebut merupakan buah dari pengembangan mendalam atas sebuah kajian sejarah yang sangat memikat mengenai dinamika kolonial, yaitu penelitian tentang "Politik Air Bersih: Kota Kolonial, Wabah, dan Politik Warga Kota" oleh sejarawan Andi Achdian.
Mungkin beberapa kolega guru atau pembaca setia toer.my.id akan bertanya, “Pak Catur, Anda ini guru IPS, mengapa justru meluangkan waktu meneliti urusan air? Bukankah air itu ranah kajian Geografi murni, atau bahkan urusan teman-teman di rumpun IPA?” Di sinilah letak kekeliruannya. Air, di mata seorang sosiolog maupun pendidik IPS kritis, tidak pernah sekadar rumus kimia $H_2O$ yang jatuh dari langit lalu mengalir ke laut begitu saja. Air adalah arena kontestasi, simbol kuasa, dan cermin dari keadilan struktur sosial kita. Mari kita bedah bersama-sama, bagaimana aliran air di masa lalu dan masa kini menyimpan cerita tentang pergulatan hidup manusia, serta mengapa membawa kajian seperti ini ke dalam ruang pendidikan menjadi hal yang teramat krusial.
Belajar dari Surabaya 1897: Ketika Air Memaksa Struktur Politik Berubah
Untuk memahami mengapa air begitu politis, kita harus memutar jarum jam ke akhir abad ke-19 di kota Surabaya. Berdasarkan kajian sejarah yang menjadi akar jurnal saya, Surabaya kala itu tumbuh pesat menjadi kota dagang dan industri utama di bawah kendali Hindia-Belanda. Seiring pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869, gelombang migran Eropa berbondong-bondong datang, membentuk lapisan kelas menengah baru yang kritis—kelompok yang kerap disebut sebagai de particuliere atau warga partikelir (middenstand).
Namun, kemajuan ekonomi itu menyimpan sisi gelap yang mengerikan: wabah kolera. Dibawa oleh sirkulasi kolonialisme global dari delta Sungai Gangga sejak tahun 1818, kolera menjelma menjadi mimpi buruk laten di Surabaya. Puncaknya terjadi pada tahun 1872, ketika penyakit ini merenggut sekitar 6.000 jiwa warga kota. Tingkat kematian begitu adil dalam menjemput korban, baik dari kalangan Eropa maupun pribumi.
Di sinilah dinamika sosiologis itu memuncak. Kelompok kelas menengah Eropa yang menyadari pentingnya kesehatan publik (urban medicine) mulai melihat bahwa pemerintah kolonial di Batavia sangat lamban dan sentralistik. Pemerintah enggan mendanai infrastruktur air bersih dan hanya mau menyerahkannya kepada konsesi swasta dengan biaya serendah mungkin.
Merasa aspirasinya diabaikan oleh Gubernur Jenderal, pada 1 Mei 1897, warga Surabaya melakukan tindakan nekat: mereka mengirimkan petisi langsung kepada Yang Mulia Ratu Belanda di Den Haag. Petisi yang ditandatangani oleh ratusan warga terhormat tersebut menuntut penyediaan layanan air bersih demi menyelamatkan kota dari cengkeraman wabah. Peristiwa ini membuktikan bahwa air bukan sekadar benda alamiah; air adalah pemantik kesadaran politik warga (civic virtue) untuk menggugat kelambanan negara. Tekanan politik berbasis air inilah yang pada akhirnya mendorong lahirnya tuntutan otonomi daerah (gemeente) dan kelak mewujudkan proyek mata air Kasri oleh Wijs & Hillen pada November 1903.
Jembatan Epistemologis: Dari Sejarah Kolonial Menuju Realitas Hidrososial Kita
Membaca potret Surabaya masa lalu membuat saya tersentak. Pola yang terjadi seratus tiga puluh tahun lalu ternyata masih berulang hari ini, hanya saja berganti baju dan istilah. Hal inilah yang mendasari saya mengembangkan kerangka Siklus Hidrososial (hydrosocial cycle) dari Linton dan Budds (2014) di dalam jurnal terbaru saya.
Siklus hidrososial mendekonstruksi pemahaman usang bahwa air hanya bergerak secara alami melalui evaporasi dan presipitasi. Kerangka ini menegaskan adanya proses ko-konstitusi: masyarakat membentuk aliran air lewat regulasi dan infrastruktur, sementara air membentuk balik formasi sosial dan hierarki kekuasaan di masyarakat.
Ketika bentang sejarah kolonial tersebut ditarik ke realitas Indonesia kontemporer, saya menemukan tiga pisau analisis teori sosial yang sangat tajam untuk membedah borok tata kelola air kita:
Karl Marx (Materialisme Historis & Komodifikasi): Ketika air dialihkan dari hak publik menjadi komoditas ekonomi, sekat kelas sosial langsung terbentuk. Tengok saja privatisasi air di Jakarta selama lebih dari dua dekade. Tingkat kebocoran air mencapai 46 persen (setara kerugian Rp1,764 miliar), sementara 20 persen dari 11 juta warga Jakarta belum memiliki akses air pipa. Warga di permukiman informal ditolak mendapatkan sambungan pipa karena tidak memiliki sertifikat tanah resmi. Akibatnya, mereka terpaksa membeli air jeriken yang jauh lebih mahal. Ini adalah bentuk eksklusi sosial yang nyata. Kekhawatiran ini kian menebal saat DPRD DKI Jakarta mengesahkan perubahan status hukum PAM Jaya menjadi Perseroan Terbatas Daerah (Perseroda) pada akhir Desember 2025.
Antonio Gramsci (Hegemony): Kekuasaan bekerja dengan cara membuat tata kelola yang timpang seolah-olah menjadi "satu-satunya solusi rasional". Proyek-proyek bendungan raksasa (megaproject) sering diposisikan sebagai lambang modernitas, padahal di balik itu terjadi pemutusan hubungan masyarakat dengan ruang ekologisnya (ruptura), seperti yang terjadi pada pembangunan Waduk Jatigede tahun 2015. Cara-cara lokal dan kearifan komunitas dalam memanen air justru kerap dipinggirkan.
Pierre Bourdieu (Modal dan Ruang Sosial): Akses air ditentukan oleh posisi aktor di dalam lapangan sosial. Menjamurnya industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merupakan contoh nyata bagaimana korporasi besar yang memiliki modal simbolik dan ekonomi kuat mengonversi modal alam milik publik menjadi modal ekonomi mereka. Imbasnya, sumur-sumur warga desa di sekitar pabrik mengering dan mereka mengalami deprivasi akses terhadap hak dasarnya.
Ditambah lagi, rilis resmi BMKG pada Mei 2025 yang memperingatkan krisis air ekstrem di Jawa Barat, Jawa Timur, hingga NTT akibat perubahan iklim, serta laporan PBB per Januari 2026 mengenai perlunya kerangka pemantauan kebangkrutan air global (global water bankruptcy), kian menegaskan bahwa krisis air ini adalah bom waktu sosial yang nyata.
Apa Pentingnya Membuat Jurnal Seperti Ini?
Sebagai seorang praktisi di lapangan, menulis jurnal ilmiah sosiologi air ini bukan sekadar urusan mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan pangkat atau gaya-gayaan akademis. Ada nilai penting yang jauh lebih mendalam:
Membongkar Mitos Kelangkaan Alami: Jurnal ini penting untuk menyadarkan kita bahwa kelangkaan air sering kali bukan murni karena faktor alam atau "takdir" musim kemarau semata. Kelangkaan tersebut diproduksi secara sosial (socially produced scarcity) melalui kebijakan yang tidak adil, monopoli korporasi, dan pembiaran struktural terhadap kelompok marginal.
Menyediakan Rekam Jejak Kritis: Tulisan ilmiah bertindak sebagai dokumen perlawanan pemikiran. Ketika kebijakan tata kelola air semakin mengarah pada komersialisasi, argumen-argumen ilmiah yang berbasis pada teori keadilan ekologis dapat menjadi fondasi bagi para aktivis, akademisi, dan pengambil kebijakan yang masih peduli pada nasib rakyat kecil.
Hubungannya sebagai Pendidik dan Guru IPS
Sebagai pendidik guru IPS, relevansi kajian hidrososio ini bagaikan menemukan oase di tengah keringnya metodologi pembelajaran yang kontekstual. Muatan IPS dalam Kurikulum Merdeka menuntut kita untuk menyajikan pembelajaran yang terintegrasi dan berbasis isu nyata (issue-based learning).
Air adalah lensa pedagogis yang sempurna. Melalui satu objek tunggal bernama "air", seorang guru IPS dapat mengajak siswa berselancar melintasi berbagai disiplin ilmu sekaligus:
Aspek Sejarah: Kita bisa membawa kisah petisi warga Surabaya tahun 1897 untuk mengajarkan konsep perubahan sosial, kesehatan publik, dan perjuangan hak-hak sipil.
Aspek Geografi: Kita mendiskusikan ketimpangan spasial, dampak perubahan iklim global yang dipetakan oleh BMKG, serta bagaimana kondisi geografis memengaruhi distribusi air bersih.
Aspek Ekonomi: Siswa diajak berpikir kritis tentang makna komodifikasi, bagaimana industri AMDK beroperasi, serta apa dampaknya ketika kebutuhan dasar manusia berubah fungsi menjadi barang dagangan komersial.
Aspek Sosiologi: Kita membedah konsep ruang sosial Bourdieu, melihat relasi kuasa, eksklusi sosial di permukiman padat Jakarta, dan bagaimana konflik horizontal bisa tersulut akibat perebutan sumber daya alam.
Dengan cara ini, kita tidak sedang mencetak anak-anak yang pandai menghafal definisi, melainkan sedang membentuk warga negara yang memiliki critical awareness (kesadaran kritis). Kita mendidik generasi yang kelak mampu melihat ketimpangan di lingkungannya dan tergerak untuk memperbaikinya.
Manfaat dan Tujuan Kajian
Secara eksplisit, buah pemikiran yang tertuang dalam jurnal ini memiliki arah tujuan dan kemanfaatan yang jelas:
Tujuan Akademis dan Praktis: Mendekonstruksi cara pandang teknokratis-positivistik dalam pengelolaan air di Indonesia agar lebih humanis, inklusif, dan berorientasi pada keadilan sosial.
Manfaat Bagi Guru dan Pengajar: Menjadi bahan pengayaan modul ajar kontemporer yang kaya akan literatur teori sosial, sehingga guru IPS memiliki rujukan konkret untuk mendesain pembelajaran yang menantang nalar kritis siswa.
Manfaat Bagi Peserta Didik: Melatih kepekaan empati sosial mereka. Ketika mereka menenggak sebotol air kemasan atau membuka keran di rumah, mereka sadar ada tanggung jawab ekologis dan hak orang lain yang harus dihormati di dalam setiap tetesnya.
Air adalah kehidupan, dan bagaimana suatu bangsa mengelola airnya adalah indikator paling jujur dari seberapa tinggi mereka menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Mari kita bawa perbincangan ini ke ruang-ruang kelas kita, mengalirkan kesadaran dari meja guru hingga ke sanubari generasi masa depan.
Bagaimana kondisi akses air di sekitar tempat tinggal Sahabat toer.my.id? Apakah Anda juga melihat adanya pola kontestasi kuasa di sana? Mari kita diskusikan bersama di kolom komentar.
Unduh & Baca Jurnal Lengkap
Monograf Lengkap: "Kajian Hidrososio: Perspektif Sosiologi Air dalam Ruang Sosial Indonesia" oleh Catur Pamungkas, S.Pd., Gr. Tersedia dalam format PDF standar akademik.

Kolom Komentar
Komentar
Posting Komentar