Historical Study Trip, Membuka Gerbang Dimensi Geo-Sosial dan Sejarah (archive)

Historical Study Trip, Membuka Gerbang Dimensi Geo-Sosial dan Sejarah (archive)
Dokumentasi Pribadi. Circa 2019: Jogjakarta Street.

Setiap orang adalah pelaku sejarah, karena seseorang yang hidup pasti mengalami tiga macam fase. Masa lampau, sekarang, dan masa depan. Bila dikaji menggunakan empiris ilmu Geografi, maka memenuhi prinsip korologi. Yakni sebuah rangkaian fenomena atau peristiwa yang saling berhubungan antara lingkungan (alam) dan manusia.

Syarat utama kehidupan itu ada, salah satunya adalah tempat tinggal, atau wilayah. Definitif hidup jika ada interaksi antara lingkungan dengan manusia, manusia dengan lingkungan hingga manusia dengan manusia. Egoisme manusia tak bisa lepas dan turut berperan di dalamnya.

Homo homini socius, manusia sebagai makhluk sosial, bisa berubah menjadi homo homini lopus. Tak bisa hidup tanpa bantuan manusia yang lain, lalu termakan ketamakan dan saling memangsa satu sama lain. Ini menjawab pemahaman dasar yang dikemukakan oleh Augusto Comte, tentang Positivism. Manusia bergantung hidup dengan alam tidak lagi relevan. Sebuah kontradiksi kontras berkembangnya pola kehidupan.

Perkembangan zaman, memacu sapiens berinovasi. Dimulai dari food foragging, food gathering, hingga food producing. Perubahan mendasar hidup manusia yang dahulu ketergantungan dengan alam, sampai mampu mengolah dan menghasilkan manfaat untuk melanjutkan hidup. Barulah sampai ke tingkat yang lebih kompleks, terus berkembang hingga sekarang ini.

Artefak, relik, dan peninggalan lain yang berbentuk nyata, merupakan tanda bahwa kehidupan di masa lampau menyimpan banyak cerita. Seperti black box yang diungkapkan oleh orang-orang geologi saat menemukan singkapan batuan. Seperti kompas sebagai tengara dan petunjuk yang digunakan orang geografi, seperti memori dalam format digital yang sekarang kita ketahui.

Sayang sekali, perkembangan terasa begitu cepat hingga kerap kali terjadi GAP atau jarak dengan generasi penerus. Jika sudah seperti ini, generasi yang baru akan semakin gagap bahkan belum siap mengetahui nilai-nilai yang sudah tertata pada masa lampau. Hingga akhirnya, semua akan menjadi legenda dan dongeng belaka. Hampa.

Al-Gore, mungkin benar adanya. Ia menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan sekarang akan berdampak 20 tahun ke depan. Sejalan dengan susunan proyek RPJMD, atau program pembangunan daerah yang terbagi menjadi jangka pendek menengah, dan panjang. Meski dalam narasi yang ada, kebijakan yang sarat politis juga tak menutup kemungkinan terus berubah, tergantung steering commite eksekutornya.

Lagi-lagi sayang sekali. Sarat kepentingan tertentu tak semuanya menyadari pentingnya nilai histori, geo-sosial, ekonomi dan sebagainya. Secara awam, akan terbentuk pola yang kontras. Mereka yang pro perubahan, atau mereka yang mempertahankan nilai-nilai hingga dicap sebagai kaum konservatif. Mestinya diantaranya hal tersebut layaknya dua sisi mata pisau. Sama-sama akan melukai jika tak tepat pakai.

Menjadi bencana jika kepentingan masa depan melupakan masa lampau, dan menjadi sia-sia jika kepentingan dari masa lampau dipaksa untuk merubah masa depan. Harus ditengahi, dengan dinamika yang ada harus ada harmonisasi. Kesadaran manusia memang selalu diuji.

Kenampakan yang ada di depan mata, bisa jadi objek studi. Apapun yang terlihat ekstrimnya pasti memiliki nilai bagi yang mau memahami. Tinggal seberapa besar pemahaman atau seberapa jauh ingin memahaminya? Lalu timbulah berbagai macam keingin--tahuan, semakin penasaran dan melesat jauh beradu dengan imajinasi. Metode ini cukup familiar dan masih relevan hingga sekarang. Sering dipraktikan di dalam maupun di luar kelas. Namanya metode inquiry.

Sebenarnya, sadar atau tidak, setiap hari kita memraktikannya. Hanya saja, uji empiris menurut keilmuan Sejarah. Inderawi manusia menangkap dan mulai terjadi awal mula terjadinya perkenalan hingga membentuk menjadi pengalaman. Thomas Hobbe pernah mengatakan hal demikian.

Pengalaman-pengalaman yang terhimpun kemudian memberikan dampak panjang dan terakumulasi menjadi kumpulan pengetahuan. Maka dari itu, syarat suatu hal dikatakan menjadi ilmu pengetahuan diantaranya mencangkup asas Empiris, Teoritis, Kumulatif, dan Non Etis.

Empiris terbentuk atas dasar observasi yang telah dilakukan. Orang jawa sudah melakukannya sejak dari jaman dahulu, kerap disebut juga sebagai ilmu titen. Selagi didasari oleh penangkapan inderawi, dikaji secara rasional dan fakta yang terjadi, maka pemahaman-pemahaman yang bersifat spekulatif tidak berlaku. Namun sayangnya, karena regenerasi dan ruh literasi yang sempat sengaja dipudarkan karena pengaruh transisi kekuasaan, tidak semua pemahaman yang luhur dapat ditangkap serta dijelaskan secara utuh, kadang cenderung melepaskan logika.

Teoritis menjadi langkah tindak lanjut dari penangkapan inderawi dan menyusunnya ke dalam bentuk simpulan yang menjelaskan sebab-akibat. Dalam ilmu sosiologi, menerangkan bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak bisa lepas dari campur tangan manusia. Secara geografi, kajian ini masuk ke dalam pendekatan kelingkungan. Sedangkan dari sisi Sejarah, rentetan peristiwa yang terjadi bisa menjadi tumpuan selanjutnya untuk perencanaan.

Kumulatif secara ilmu sosiologi dibangun dengan argumen pendukung yang tersusun melalui banyaknya proses penelitian sebelumnya. Geografi membahas hal demikian melalui 4 Prinsip utuh; persebaran, interelasi, deskripsi, dan korologi. Sejarah menjadi bagian pendukung untuk dipelajari ke ranah runtutan waktu saja.

Non etis mengesampingkan baik-buruknya suatu nilai yang ada. Fokus secara sosiologi, bisa dijelaskan dan dipahami dengan mudah dan logis. Geografi mengkaji melalui geograph questionaries (5W+1H) nya, Sejarah mengajarkan untuk mengambil hikmah tentang apa yang telah terjadi di masa lampau.

Sejalan dengan adanya Historical Study Trip dan kegiatan serupa bisa menjadi penggerak kesadaran bahwa dalam konsep kehidupan yang ada harus bisa menggandeng multidisipliner keilmuan. Literasi dapat berkembang dan edukasi bahwa living reality mengindahkan tentang penyerapan nilai luhur sejak dari dahulu tanpa memaksakan ideologi dan tujuan di masa depan. Cara ini telah dibubuhkan secara tersirat oleh pemahaman ideologis yang bersifat terbuka. Tidak kaku, apa adanya, dan sesuai dengan jatidiri.

Sosio-Histori yang disajikan mengandung pembelajaran bahwa kehidupan masa sekarang tidak bisa terlepas dari masa lampau, dan masa lampau memengaruhi apa yang terjadi di masa selanjutnya. Semuanya saling berkesinambungan, berputar seperti chakra manggilingan, bak membuka gerbang dimensi yang selama ini tertutup oleh perubahan zaman. 


arsip tulisan lawas

Kolom Komentar

Silakan login dengan Akun Google untuk berkomentar. Komentar akan dimoderasi sebelum ditampilkan.

Komentar

Posting Komentar